Gunung Argopuro, Jalan-jalan di Luasnya Belantara

71900_1438952974287_4314903_n

Jawa Timur memang masih mempunyai banyak belantara dengan trek-trek pendakian yang cukup menantang. Dan salah satunya yang terpanjang adalah Gunung Argopuro. Terletak membentang dari Bremi, Kabupaten Probolinggo sampai Baderan, Kabupaten Situbondo. Di batas selatanya sebagian mencakup Kabupaten Jember. Begitu pula jalur pendakian gunung ini yang membentang sekitar 42Km dari Bremi ke Baderan.

Ulasan kali ini akan menceritakan bagaimana serunya menyusuri belantara dan mencapai puncak dari Gunung Argopuro. Dengan start point dari pintu Bremi, Kabupaten Probolinggo.

Transportasi paling gampang adalah naik angkutan umum atau bus dari arah Surabaya,Malang,Pasuruhan menuju Situbondo/Banyuwangi, dan kita turun pertigaan Pabrik Gula Penajarakan. Setelah itu naik angkudes ke arah Bremi. Alternatif kedua kita bisa langsung menuju terminal Probolinggo, setelah itu kita oper dengan bus kecil yang menuju arah Bremi. Anggkutan umum dari terminal Probolinggo – Bermi hanya ada dari pagi sampai siang saja.

Sesampai Desa Bremi, kita lapor dulu, di jalur Bremi ini kata lapornya di Polsek Krucil. Cuma mengisi buku tamu dan tanpa pungutan biaya apapun. Untuk menuju ke Polsek kita ga perlu bingung, karena sopir-sopir angkutan pasti sudah tahu, biasanya kalo udah kelihatan mau mendaki gunung, pasti langsung di turunin ke polsek tersebut. Di sini masih tersedia, kamar mandi umum,penginapan, masjid, juga warung untuk mengisi keperluan yang kurang sebelum mendaki.

Menuju Perbatasan Hutan, Jalur ke Taman Hidup

Menuju Perbatasan Hutan, Jalur ke Taman Hidup

Start dari Polsek Krucil, kita mendaki menuju camp pertama, yaitu Taman Hidup. Dari Polsek tadi sampai Taman Hidup kira di butuhkan waktu 8 Jam. Medan yang kita lalui bervariasi, dari jalan kampung permukiman penduduk, jalan perkebunan, hutan lebat, dan banyak tanjakan-tanjakan memerlukan tenaga ekstra. Point of interest, yang kita lewati adalah, Masjid Bremi, Resort Hyang Saketi, Masjid terakhir kampung, gubuk perbatasan perkebunan – hutan yang bisa kita gunakan untuk istirahat, menuju masuk hutan yang kaya dengan tanjakan.

IMG_0501-2

Sebelum sampai di Taman Hidup, kita akan sampai pada pertigaan, jika lurus menuju Taman Hidup, dan yang kekiri menuju Puncak Argopuro. Dari sini kita lanjutakan ke arah Taman Hiup, sekitar 500 meter dengan jalur sedikit turun.
Sesampai sana kita bisa menikmati Danau Taman Hidup yang lumayan luas, tentu saja dengan air yang begitu dingin. Selain itu di sini merupakan area camping yang lumayan luas. Kita bisa mendirikan hingga puluhan tenda. Udara disini sangat dingin, diwaktu-waktu tertentu kita bisa mendapatkan embun yang membeku di pagi hari. Untuk keperluan air bisa kita dapatkan di danau sekitar 50m dari area camping.

Tepian Danau Taman Hidup di Pagi Hari

Tepian Danau Taman Hidup di Pagi Hari

Kabut di Tepi Danau

Kabut di Tepi Danau

Danau Taman Hidup yang Tenang

Danau Taman Hidup yang Tenang

Setelah istirahat semalam dan menikmati sunrise di Taman Hidup, Sepagi mungkin setelah sarapan, kita lanjutkan ke Cisentor. Yaitu camp area kedua setelah Taman Hidup. Waktu tempuh sekitar 10 jam, dengan medan yang sangat bervariasi sekali. Dari Taman Hidup kita menuju pertigaan yang di awal tadi, dan ambil arak ke kanan, kearah puncak. Pertama, jalur yang di lewati adalah hutan lumut dan lembab dengan medan agak landai. Setelah itu kita lanjutakan dengan menyusuri pinggiran bukit dengan tanjakan yang sudah mulai banyak. Setelah melewati sungai kering, tanjakan yang begitu curam mengantarkan kita ke Bukit Cemoro Limo. Dibukit ini tempat yang nyaman untuk berteduh dan mengisi energi yang habis dari perjalanan yang cukup melelahkan tadi.

Hutan Lembab Berlumut

Hutan Lembab Berlumut

Selesai istirahat dan mengisi energi, kita lanjutkan menyusuri bagian atas bukit ini setelah itu kita melewati bekas alur sungai kecil, setelah itu kita akam menemukan pertiggan. Pertigaan itu berbentuk huruf Y dengan jalur ke kiri agak nanjak menunjuk kita ke jalur terabasan menuju Puncak Argopuro, sedangkan yang landai dan lurus akan menjukkan kita untuk menikmati keanekaragaman hayati belantara Gunung Argopuro lebih lama lagi. Di cerita kali ini kita akan menggunakan jalur lurus, untuk menemukan, Semak Jancukan, Aeng Kenik, Sabana, Cisentor dan aliran air yang segar.

Dari pertigaan tadi kita lurus, dan jalur semakin menurun menyusuri lereng bukit dengan banyak tumbuhan semak yang sering dinamakan Jancukan. Tumbuhan ini memiliki tinggi 50cm – 2m, memiliki daun lebar, mirip daun terong, tapi banyak memiliki duri tajam yang jika sampai kena kulit akan menyebabkan panas yang luar biasa. Saking panasnya dan bikin jengkel, kadang pendaki dari jawa timuran, sampai mengumpat “Jancuk, Panas!” maka dari itu tumbuhan ini di kenal dengan nama Jancukan.

Dari pertigaan tadi, medan yang dilewati menjadi berbukit-bukit, kadang turun, kadang nanjak, kadang masuk semak jancukan, kadang lewat lereng bukit. Di jalur ini kita banyak menjumpai tempat-tempat dengan view menarik yang cocok untuk beristirahat. Akan tetapi, dari Taman Hidup, Cemoro Limo, Pertiggan, kita baru akan menemukan air di Aeng Kenik. Jadi lebih baik kita mempercepat waktu untuk istirahat lebih lama di Aeng Kenik, Aeng Kenik, berarti mata air kecil, dalam bahasa Madura. Aeng Kenik berada dekan tengan perbatasan hutan semak dengan sabana. Yang jika di tempuh dari Taman Hidup bisa sampai 7 jam. Disini kita bisa istirahat, makan, tersengat jancukan juga mengisi energi, untuk selanjutnya menuju Cisentor.

Menuju Cisentor, medan berganti hutan semak lumayan nanjak dengan banyak rumput tingi-tinggi, bukan berarti tidak ada tumbuhan jancukan. Selama perjalanan kita masih bisa menikmati sengatan tumbuhan ini. Setelah itu dilanjutkan melewati beberapa sabana kecil dan setelah menyusuri bukit terakhir kita akan mendengar suara aliran sungai, yang mengantarakan kita ke tempat camp ke dua, Cisentor.

Cisentor, adalah sabana kecil di pinggir sungai denga air yang jernih dan segar. Cisentor juga merupakan pertiggan besar bertemunya 2 jalur pendakian, yaitu jalur Bremi, Probolinggi dan jalur Baderan, Situbondo. Tempatnya lumayan luas, kita bisa mendirikan sampai ber puluh-puluh tenda. Disini terdapat gubuk, yang bisa kita gunakan istirahat sementara sembari mendirikan tenda dan bersih-bersih diri di sungai Cisentor. Disini kita harus istirahat lebih lama, makan-makan, bergembira ria, karena tempat ini sudah sedekat dengan, Puncak Argopuro. Setelah puas istirahat di sini, pagi sebelum matahari terbit kita berjalan ke Puncak.

Pondokan Cisentor

Pondokan Cisentor

Cisentor ke puncak memakan waktu 3 jam, dengan variasi medan, semak pendek, sabana, hutan edelweis, dan jalur yang cukup landai. Dari cisentor kita akan masuk hutan semak, dan melewati sabana kecil sampai kita masuk sabana besar yang ada aliran sungainya, itu namanya Rawa Embik. Tempat ini merupakan alternatif tempat Camp setalah Cisentor. Jarang di gunakan karena lokasinya terlalu masuk ke jalur puncak dan lumayan jauh dari pertigaan Cisentor. Dari sabana Rawa Embik, kita lanjutkan masuk menyusuri lereng hutan semak, dan edelweis, sampai kita menemukan pertigaan di tengah sabana besar. Pertiggan itu mengarahakan kita ke 2 puncak Gunung Argopuro, kekiri ke Puncak Rengganis, kekanan ke Puncak Pengunungan Iyang. Pertiggan ini bisa digunakan istirahat, sebelum ke salah satu puncak.

Sabana di Pertigaan Puncak Rengganis dan Puuncak Iyang

Sabana di Pertigaan Puncak Rengganis dan Puuncak Iyang

Puncak 3088 mdpl, Puncak Iyang.

Puncak 3088 mdpl, Puncak Iyang.

Puncak tertinggi Argopuro, adalah Puncak Iyang, yang memiliki ketinggian 3088 mdpl, berada di arah kanan pertigaan tadi. Sedangkan ynag kekiri adalah Puncak Rengganis yang begitu terkenal dengan cerita sejarahnya Gunung Argopuro itu sendiri. Yaitu tentang Pura yang berada di puncak gunung, dan Makam Dewi Rengganis, yang merupakan salah satu putri raja Kerajaan Majapahit. Di puncak area puncak Argopuro ini point of view utama adalah di Puncak Rengganis, yang berstrukur batuan putih, dan reruntuhan Pura, dimasa itu.

Reruntuhan Pura Dewi Rengganis di Puncak Rengganis

Reruntuhan Pura Dewi Rengganis di Puncak Rengganis

Usai eksplorasi puncak, kita bergegas turun, istirahat sejenak dan packing peralatan, dan kita lanjutkan perjalanan di jalur Baderan, menuju Cikasur. Perjalan kesana kita harus menyebrangi sungai Cisentor, melewati beberapa tanjakan dan semak Jancukan yang semakin rimbun. Sebisa munkin kita harus lepas dari Cisentor siang hari, agar sampai Cikasur tidak terlalu malam. Perjalanan Cisentor – Cikasur memakan waktu 3 jam. Dengan medan sabana yang sangat luas, setelah kita melewati beberapa hutan semak. Di sabana yang sangat luas ini jika beruntung kita akan melihat pemandangan burung merak beterbangan di sabana.

Perjalanan Menuju Cikasur

Perjalanan Menuju Cikasur

Turun ke Cikasur

Turun ke Cikasur

Sampai di cikasur, kita buka tenda dan istirahat, bersenang-senang sepuasnya. disana kita di sediakan sungai besar berair sangat jernih, selada air yang segar-segar, dan sabana yang sangat luas beserta fauna di dalamnya. Cikasur adalah Cam ke 3, tempat camp nya berada di sekitaran Gasebo yang berdiri di dekat bekas bangunan lapangan terbang jaman jepang. Untuk airnya kita bisa sambil mandi di sungai Cikasur tadi sekaligus petik selada air, buat tambahan gizi. Setelah menikmati sunrise dan mandi pagi, sebaiknya kita bergegas, melanjutkan perjalanan ke Baderan. Jalurnya kita harus menyebrangi Sungai Cikasur dan kita lanjutkan dengan Sabana.

Mandi Bersama

Mandi Bersama

Selada Air, Segar!

Selada Air, Segar!

Mandi di Cikasur

Mandi di Cikasur

Perjalanan berikutnya memakan waktu 8 jam. Dari Cikasur sampai Baderan akan melewati sabana yang sangat luas dan panas, salah satu tempatnya sering disebut, Alun-alun Kecil. Setalah itu kita lanjutan dengan tanjakan menuju hutan lagi. Dari jalur yang panjang ini kita akan menemukan air lagi di Mata Air 1, cukup jauh dari Cikasur, dan sudah dekat dengan perkebunan warga di Baderan. Akan tetapi dari perkebunan warga masih 2 jam lagi untuk sampai ke Desa Baderan. Dari Mata Air 1, jalur sudah mulai turun, licin dan berdebu, hingga masuk di perkebunan jalur berubah menjadi jalan makadam, yang berdampak menyiksa kaki. Keluar dari perkebunan, kita akan bertemu jalan raya dan ambil arah kanan untuk istirahat di Desa Baderan.

Disini, ada warung makan, dan kamar mandi untuk sekedar mandi atau cuci muka. Tak jauh dari warung makan, ada Pos Pendakian Jalur Baderan. Tapi biasanya kalau sore sudah tutup. Dan pendaki biasanya lebih nyaman santai di warung makan tersebut, sambil makan dan menunggu angkutan umum yang akan mengantarkan sampai Kota Besuki. Disinilah pendakian Gunung Argopuro, selesai. Selanjutnya kita pulang dengan dokumentasi, foto-foto, dan pengalaman menelusuri belantara dan penginggalan-peninggalan sejarah yang akan kita kenang seumur hidup.

Selanjutnya dari Kota Besuki, kita cari Bus menuju kota kota kita tercinta. Karena kita dari Malang, kita cari bus ke Probolinggo, lanjut oper ke bus jurusan Malang.

2 responses to “Gunung Argopuro, Jalan-jalan di Luasnya Belantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s